Skip navigation

Category Archives: historiografi

Istilah minimalis sebagai satu konsep atau gaya dalam rancangan rumah tinggal tengah marak digunakan di masyarakat kita, khususnya sejak sekitar tahun 1990-an. Sekalipun konsep dasar minimalis ini telah muncul akibat revolsi industri dan kebangkitan paham modernisme dalam sejarah arsitektur dan berkembang sejak tahun 1920-an setelah kelahiran gaya arsitektur International Style yang mengusung tema functionalism (fungsinal), clarity (kejelasan) dan simplicity (kesederhanaan). Satu gerakan penolakan terhadap peniruan dan pengulangan bentuk-bentuk lama serta penggunaan ornamentasi masa klasik yang dipandang berlebihan, non struktural dan sekadar tambahan yang sebenarnya tidak memberi makna apa-apa dalam arsitektur. Di lain pihak menyuarakan kenyataan kemajuan teknologi dalam proses rancangan, konstruksi dan struktur bangunan yang memberi kemudahan, akurasi dan efisiensi.

Read More »

Arsitektur Jengki, satu istilah dalam fragmen sejarah arsitektur Nusantara Pasca kepulangan para arsitek Belanda sekitar tahun 1950-1960. Arsitektur jengki tumbuh dari kreatifitas pemuda Indonesia yang pada umumnya lulusan STM dan pernah magang pada konsultan arsitektur di jaman kolonial dan beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Gaya arsitektur ini oleh sebagaian kalangan dikategorikan berorientasi pada arsitektur yang pada saat itu berkembang di Amerika Selatan. Hal ini dapat dilihat dari trend mobil yang pada masa itu juga banyak didatangkan dari Amerika seperti Impala, dan Capiten. Namun sebagian juga menduga bahwa gaya ini diimpor dari Rusia, yang pada waktu itu sedang gencarnya membangun hubungan mesra antara Indonesia dan Rusia. Dikenal dengan istilah Poros Jakarta -Moskwa. Salah satu bangunan yang kemudian menegaskan dugaan pengaruh ini adalah bangunan apotik “Sputnik” di Semarang yang dikategorikan sebagai arsitektur jengki. Sputnik adalah satelit pertama didunia yang berhasil diluncurkan ke orbit bumi oleh Rusia pada tanggal 4 oktober 1957.

Read More »

Rumah hakikatnya bukan sekadar bangunan fisik berupa dinding, lantai dan atap serta seluruh perniknya. Rumah adalah ruang kehidupan, suasana dan medium aktifvitas keseharian yang berlangsung terus menerus sepanjang ia masih ada. Maka rumah bisa menjadi bahasa yang dapat dibaca sebagai hirarki, eksistensi, watak dan seluruh isi nilai dan pandangan penghuninya.

Rumah H.Syakranie adalah rumah kenangan bagi keluarga dan keturunannya. H.Syakranie adalah seorang perantau dari tanah Bugis Sulawesi. Tidak ada satupun dari keturunannya yang tahu pasti kapan H.Syakranie mulai menetap di Madura. Dan tak ada satupun juga keluarganya yang tahu kapan rumah itu mulai dibangun. Sudah 5 generasi rumah itu memberikan manfaatnya. Dan selama itu pula ia meletakkan dirinya sebagai atribut eksistensial bagi keluarga dan keturunannya. Ia memberi kebanggaan sejarah perjuangan dan keberhasilan Syakranie sebagai seorang saudagar dan tokoh masyarakat yang disegani. Karena memang tidak banyak orang yang mampu membangun rumah semacam itu di lingkungannya.

Maka rekonstruksi Rumah tinggal ini bukan lagi untuk misi fungsional semata. Tapi juga sebuah upaya untuk menyatakan diri sebagai tonggak keberhasilan keluarga. Ia menjadi simbol, ikonik dan semiotika arsitektural.. Rumah telah menjadi kata-kata…