Skip navigation

underwareDi kota Dijon, sekitar 3 jam ke arah Selatan Paris Perancis. Kami diantar oleh rekan kami yang sedang kuliah di kota itu ke sebuah restoran yang menjaja makanan khas Spanyol: Nasi paela, sejenis nasi kuning yang dicampur dengan beragam makanan laut: udang, cumi, kerang dan bekicot laut. Bagi kami, lidah Indonesia, makanan itu sangat Asia, kaya rempah, gurih dan lezat.

Namun sebagaimana tulisan saya sebelumnya, bahwa menjaja makanan memang tidak melulu perkara rasa. Tapi juga nuansa. Restoran itu sederhana. Langit-langit agak rendah dan hanya ada satu meja panjang dan empat meja segi empat kecil cukup untuk empat orang. Namun suasana yang ditampilkan sangat tidak lazim, keluar dari paras teoritik dan tak dapat kami jangkau pikiran apa di balik kreativitas itu. Bagi benak kami, Indonesia dan budaya Timur, tampak tidak santun. Dengan cara yang sangat ekstrem underware bekas pakai-beberapa diantaranya sobek-sobek- digantung di seutas tali seperti sedang dijemur melintang tepat di atas meja makan.

Tapi kami tidak terlalu risau dengan pemandangan itu. Kami lahap saja makanan yang disaji hingga tak tersisa.
Justru bagi kami, suasana itu mengundang tanya dan menjadikan itu sebagai bahan pembicaraan kami tentang keterkaitannya dengan persoalan semiotika dalam arsitektur. Kalau pada tulisan terdahulu bahwa ketersusunan ruang sebuah rumah makan mencitrakan selera rasa artistik dan keahlian peraciknya. Dan karenanya mereka sibuk bersekongkol dengan arsitek mencari tema-tema konsep penataan ruang: clasical estetuta, etnostyle, sense of place, clean and simpe, functional configuration, juxtaposition, back to nature dan sebagainya. Di restoran Spanyol ini tidak menyatakan itu. Justru secara kontradiktif dan sangat berani menyajikan kekumuhan, kesederhanaan dan jorok. Tetapi barangkali inilah kekuatannya. Satu upaya deklarasi konsep “dekonstruksi arsitektur” yang berkembang pascamodernism sekalipun dengan tafsir keliru. Cara lain penandaan (signifier) untuk menorehkan kesan dan memancing keingintahuan yang nantinya akan ditebarkan oleh para pengunjung yang telah pernah datang. Ketaklaziman berbuah keingintahuan dan jebakan. Maka datang ke rumah makan itu akhirnya bukan untuk sekadar makan tapi lebih dari itu ingin melihat bagaimana pesona the second hand underware …!
Pour notre ami à Dijon: Mas Sunny, Iqbal, Dibyo et Elfitrin. Underware est-elle encore disponible? Vu et commentaire s’il vous plaî…!!

Advertisements

2 Comments

  1. wah itu rumah makan atau tempat jemurankah? rasanya gmana makan ditempat itu??

  2. underwear terbang
    tapi mantabbbb omm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: